22 Januari 2009

PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU

Kehidupan pernikahan kami awalnya
baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik,
tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat,
kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh,
baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya
sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari,
pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih
bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang
dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan
sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam,
kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak
pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan
sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang
beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering
hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa
lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa
lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2
saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari
yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang
makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena
typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya.
Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia
memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.


Meisha tidak secantik aku, dia begitu
sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti
yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta,
ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan
kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan
bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia
bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat
dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam,
sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena
ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja
di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan
untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu
ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia
tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x.
Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat
lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang
Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang
pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring
nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku
suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

" Hai Rima, kenapa dengan anak
sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal,
sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi
Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku
tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku,
seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya,
tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit
dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya
dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi
caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika
dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit
daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan
kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu
komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah
setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2,
membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku
jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan
ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah
suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya
pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti
jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis
kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan
cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti
ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku,
" Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca
surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang
gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan
jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi
yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap
tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar
seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah
padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya.
Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa,
tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan
yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa,
meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya
menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara
alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat
siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak
pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang
aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu,
karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat
memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah
mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan
segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh
hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan
untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap
bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak
sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat
jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku.
Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak
itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku
simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan
untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku
kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2
uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku.
Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan
bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu
memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku
sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku
menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah
dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih
sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak
mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada
dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya
nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan
aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu
terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia
dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku
juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********
Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu
dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih
dipenuhi bunga.

" Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan
kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta
sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa
senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu,
dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika
kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin,
ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri
cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu
terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya
tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam
tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai
Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka,
ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah
menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"

Aku tidak perduli,dan berlalu
dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu
melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk
dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau
inginkan.

Istrimu,

Rima"

Di surat yang lain,

"………Kehadiran perempuan
itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa
hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu
untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari
kedua bola matamu saat memandang Meisha……"

Disurat yang kesekian,

"…….Aku bersumpah, akan
membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau
lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2
barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan
masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung.
Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu
pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih
hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal
saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping
tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu
yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar
cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya…….."

Meisha menghapus air mata yang terus
mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu
disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

"…………..Hari ini adalah
hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang
kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku
akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya
dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang
hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin
malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku
segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu,
6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku
melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi
dihatimu ?………"

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku
dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus
melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang
sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun
dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir
motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu
lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya
terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak
lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik
ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat
dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas
yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan
tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai
merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan
hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan,
aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya
aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya
?

Aku terus berusaha mencintainya
seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise
untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi
naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena
dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak
semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak
duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru
menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan
kita.

Jakarta, 7 Januari 2009
(dedicated to my friend....may you rest in peace...)
 

Keluarga zahwan | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL