11 Desember 2008

Putih Cantik- Persepsi Kecantikan Orang Indonesia

“Putih Cantik- Persepsi Kecantikan Orang Indonesia”
Oleh : Hannah Aidinal Al Rashid FISIP – UMM - Malang

EVERYTHING HAS BEAUTY, BUT NOT EVERYONE SEES IT.
“Semuanya mempunyai kecantikan, tetapi tidak semua orang dapat melihatnya.” Confucius (BC 551-BC 479).

Sebagai seorang berdarah campuran Indonesia dan Eropa, menurut beberapa orang Indonesia yang pernah saya temui, mereka sangat menginginkan mempunyai warna kulit putih, seperti warna kulit saya. Untuk banyakan orang asing yang datang ke Indonesia, mereka dapat menyaksikan obsesi atau fenomena orang Indonesia ingin menjadikan kulitnya putih dalam beberapa bentuk.

Latar belakang timbul persepsi cantik adalah kulit putih.

Di Barat, hal seperti ini dianggap seperti salah satu bentuk rasisme. Bagaimanapun, pengalaman saya di Indonesia mengesankan bahwa di negara ini sebagaian masyarakatnya memandang bahwa kulit putih merupakan sesuatu yang lebih menarik, bagus dan indah daripada kulit hitam.

Indonesia adalah salah satu negera yang suku atau etnisnya paling beragam di dunia dan orang Indonesia juga mempunyai semboyan nasional ‘Bhinneka Tunggal Ika’ atau ‘Unity in Diversity’. Semboyan nasional ini mempersembahkan ide bahwa walaupun ada perbedaannya, semua orang Indonesia, terlepas dari suku bangsa masing-masing, adalah sama.

Untuk menjelaskan keterkaitan persepsi kecantikan dengan definisi putih, kita harus melihat argumen utama dalam buku Aquarini, yaitu bahwa melewati iklan sabun di Indonesia, putih dianggap sebagai ras yang superior, dan karena itu dinormalkan dan diidealkan. Bahkan putih dan ke-putih-an adalah hal yang signifikan, bukan saja dalam kategori sebagai ras saja, melainkan juga dalam definisi dan konstruksi kecantikan, femininitas, seksualitas, dan domestisitas perempuan. (2003:100).

Persepsi kecantikan dan terkaitannya dengan kulit putih adalah sesuatu yang menurut McClintock mempunyai sejarah yang cukup lama. McClintock (Dalam Aquarini 2003:37) telah menganalisa iklan sabun dari Zaman Victoria di Inggris pada abad 19, dan berargumen bahwa iklan sabun itu menjadi agen rasisme, kolonialisme, dan imperialisme. Menurut analisis McClintock (Dalam Aquarini 2003:38) iklan sabun bergantung pada kebudayaan yang imperial (imperial culture) dan alam yang terjajah (colonised nature) sebagai dikotomi hitam/putih.

Kulit hitam ditandai sebagai “alam”, yang dalam konteks ini menimplikasi seseorang yang tidak berbudaya, tidak beradab, liar, dan juga orang yang “kotor” dan “tercemar” yang perlu dipurifikasi. Dan dalam dikotomi kebudayaan yang imperial dan alam yang terjajah, putih menandai keadaan berbudaya, bersih, dan murni.

Bangsa Indonesia tidak terjajah oleh Ratu Victoria, bagaimanapun, persepsi para penjajah Belanda yang telah mengokupasi Indonesia selama tiga setengah abad tidak jauh beda. Pemerintah kolonis Belanda juga berpendapat bahwa orang berkulit putih adalah ras yang lebih berkuasa, dan orang Pribumi yang berkulit hitam statusnya lebih rendah.

Menurut Ita Yulianto (2007) keinginan orang Indonesia untuk memiliki kulit putih terkait dengan Pesona Barat, yaitu pengaruh Barat dalam beberapa bentuk, dari zaman Kolonis Belanda, ke media televisi yang menggambarkan budaya Barat.

Sejarah kecantikan wanita Indonesia.

Dr Tri. Marhaeni Pudji Astuti, menjelaskan (dalam Ita Yulianto:2007) sejarah persepsi kecantikan dan keterkaitannya dengan warna kulit adalah sebagai berikut. Pada tahun 1970-an, salah satu perusahaan kosmetik yang paling populer bagi kaum perempuan adalah Viva Cosmetic’s. Perbedaan dinatara Viva Cosmetic’s dari tahun 1970-an itu dan perusahaan kosmetik seperti Pond’s kini, adalah bahwa Viva Caosmetic’s tidak menawarkan ‘putih itu cantik’ tetapi, ‘cantik dan segar’. Yang dipentingkan adalah ‘cantik’ bukan ‘putih’.

Kemudian terdapat dua perusahaan kosmetik lain yang muncul, Mustika Ratu dan Sari Ayu yang menawarkan image ‘kuning langsat’ bak Putri Keraton. Dan diseluruh Indonesia kaum perempuan menjadi terobsesi untuk menguningkan kulitnya. Selama itu, perusahaan kosmetik tersebut tidak menawarkan ‘putih itu cantik’ tetapi ‘cantik adalah kuning langsat bak Putri Keraton’.

Dr Tri menjelaskan Persepsi ‘cantik itu putih’, dimulai pada era 1985-an. Pada tahun ini, Mustika Ratu dan Sari Ayu, merubah penawaran ‘kuning langsat’ ke kosmetik yang ada whiteningnya dengan image baru, ‘pemutih dan aman untuk kulit Indonesia’. ketertarikan perempuan Indonesia kepada dunia Barat, yang identik dengan kulit putih, sangat kuat, sehingga kulit putih menjadi trend dan perusahaan kosmetik seperti Viva Cosmetic’s yang tidak mengikuti trend ini tidak terdengar lagi.

Pergeseran makna dari ‘kuning langsat’ ke ‘putih’ menandai adanya dekonstruksi warna kulit. Dulu kita yang eksotis adalah ‘hitam manis’ dan ‘sawo matang’, dan kulit aristocrat identik dengan ‘kekuninglangsatan’, sekarang itu sudah tak bisa dipertahankan. Image dan selera perempuan sudah mulai dipenjarakan dengan pesona barat.

Inilah kekuatan iklan di masyarakat.

Inilah kekuatan iklan : Dalam iklan LUX ini, kecantikan bintang Indo diidealkan oleh seorang “biasa” yang sebenarnya diperan oleh bintang Indo juga. Kecantikan Indo direpresentasi sebagai “biasa” dan “normal”, yaitu, dinormalkan. Kampanye LUX yang terbaru di Indonesia “Play With Beauty” mempunyai empat Ambasador, Tamara Bleszinsky, Mariana Renata, Luna Maya, dan Dian Sastro. Dari empat Ambasador LUX ini, tiga merupakan bintang Indo.

Misalnya iklan produk ponds yang menggambarkan seorang gadis yang ingin menjadi ballerina. Ketika di mengaudisi dia gagal, karena kulit lawannya lebih putih dan terang daripada kulitnya sendiri. Setelah audisi yang hasilnya mengecewakan itu, gadis itu pulang dan didepan pintunya ada kiriman dari keluarganya, yang berisi produk Pond’s. Setelah memakai produk Pond’s itu, kulitnya menjadi lebih putih dan terang dan akhirnya dia mencapai impiannya untuk menjadi penari.

Ada juga iklan Pond’s dengan seorang istri yang suaminya menjadi lebih romantis dan lebih menunjunkan rasa sayang kepada istrinya setelah dia memakai produk pemutih itu.

Serta terdapat iklan dengan seorang gadis yang kulitnya agak “hitam/gelap” yang tidak percaya diri dan selalu dicuekkan sama pria yang dia sukai. Akan tetapi jika dia memakai produk pemutih yang diiklankan, dia dapat perhatian pria itu, dan semua orang pula, dan dia merasa percaya diri dengan penampilannya.

Jadi, kesan dari iklan adalah dengan kulit putih, seorang dapat kelihatan lebih cantik, menarik, rasa percaya diri dan dapat mencapai cita-citanya.

Mengapa orang Indonesia ingin memiliki kulit putih?

Persepsi kulit putih sebagai sesuatu yang lebih cantik, menarik, lebih enak dipandang, dan orang dapat merasa lebih percaya diri dengan kulit putih dibandingkan kulit hitam. Karena banyak kemudahan yang didapat misalnya mudah diterima dipergaulan, mudah mendapat pekerjaan dan mudah mendapatkan pasangan hidup.

Di lain pihak, di Indonesia, keterkaitan dengan kulit putih dan status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi tetap berada. Dalam sinetronpun hal ini nampak; orang yang statusnya lebih rendah seperti pembantu, atau tukang kaki-lima, atau sopir, kulitnya kelihatan lebih hitam daripada “pahlawan” cerita, yang kulitnya pasti putih, dan gaya hidup dan fashionnya pasti a la Barat.

Kulit putih merepresentasikan status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi, kini terdapat di Indonesia fakta yang menghubungkan kulit putih dan prestis, yaitu isu ‘Memperbaiki Keturuan’.

Salah satu sumber yang berasal dari Bengkulu mengaku bahwa pacarnya pernah mengucapkan bahwa dia ingin berpacaran bersama dia, karena dia wanita yang memiliki kulit putih. Dan salah satu sumber lain dari Kalimantan, yang mempunyai pacar yang berkulit putih, jika ditanyakan oleh teman “Apakah kamu masih mau dengan dia kalau kulitnya hitam?” jawabannya cukup jelas, dia tidak ingin lagi. Alasannya mereka selain untuk memperbaiki keturunan, juga keinginan untuk menaikkan status dan prestise untuk memiliki pacar yang ganteng atau cantik karena mereka berkulit putih.

Sudah jelas bahwa persepsi kecantikan orang dibentuk oleh sejarah kolonis yang melahirkan persepsi bahwa orang berkulit putih lebih superior, cantik, menarik, bersih dan percaya diri. Ita Yulianto berpendapat demikian : Putih = Bersih, Bersih = Indah, Indah = Cantik, jadi Putih = Cantik.

Dengan kulit sawo matang atau dengan kulit hitam dan tidak putihnya orang tidak dapat merasa percaya diri dalam kulitnya sendiri?. Serta mengapa orang Indonesia merasakan bahwa kulit sawo matangnya tidak kelihatan bersih dan tidak enak dipandang?. Karena anggapan dari masyarakat itulah menyebutkan putih adalah cantik, sehingga perempuan berkulit sawo matang menjadi tidak percaya diri.

Selain itu kaum pria juga melecehkan dan merendahkan wanita berkulit sawo matang. Kaum pria lebih memilih wanita berkulit putih sebagai pasangan hidupnya.

Melalui perkembangan media televisi. Serta industri hiburan dan pengiklanan kini yang didominasi oleh artis-artis Indo (yang kecantikannya dinormalkan dan diidealkan) atau orang yang berkulit putih.

Di televisi, artis-artis Indonesia terkenal untuk gaya modern/Baratnya dan lebih mengesankan lagi kulit putihnya. Jarang kelihatan di televisi Indonesia artis yang berkulit hitam. Dalam kenyataannya, artis-artis sama seperti di televisi. Di Pondok Indah Mal, Peneliti telah melihat Surya Saputra jalan dengan pasangannya Cyntia Lamusu serta artis Novita Angie dengan anaknya. Semuanya berkulit putih dan berpakaian putih pula, seperti untuk menegaskan kulit putihnya.

Mereka juga mempercayai kesan yang disampaikan oleh iklan seperti dengan kulit putih akan lebih disayangi oleh pasangannya, dan lebih diperhatikan oleh pria misalnya. Ternyata pengaruh Pesona Barat yang disampaikan melalui artis di TV, bintang iklan, dan para penjajah Belanda, juga mempengaruhi keinginan responden untuk mencari pasangan yang berkulit putih. Bahwa lawan jenis lebih menyukai kulit putih, jadi itulah bisa dianggap seperti alasan untuk menjadikan kulit mereka putih, biar lebih disukai oleh lawan jenis mereka, karena putih = cantik.

Alasan orang Indonesia ingin memiliki kulit putih sangat terkait dengan persepsi bahwa putih adalah sesuatu yang lebih cantik dan lebih bagus. Fakta ini dikarenakan persepsi orang Indonesia mengenai perempuan yang mereka anggap seperti yang paling cantik di Indonesia dan Dunia, yang mayoritas merupakan perempuan kaukasian (keturuan Eropa, Amerika) atau perempuan Indo.

Pesan apa saja yang disampaikan oleh iklan-iklan itu, dan apakah akibat pesan iklan-iklan itu berdampak pada isu sosial?

Pesan yang disampaikan oleh iklan (iklan produk pemutih dan juga iklan sabun) adalah persepsi kecantikan yang mementingkan warna kulit putih sebagai sesuatu yang lebih indah daripada kulit hitam.

Iklan tersebut juga mengesankan bahwa tanpa kulit putih itu, orang tidak dapat merasa percaya diri dan tidak akan disayangi atau diperhatikan, lagipula tidak dapat mencapai cita-citanya.

Pesan iklan-iklan produk pemutih merupakan salah satu pengaruh yang sangat penting. Pesan iklan-iklan tersebut menyampaikan ide bahwa untuk menjadi seorang yang lebih cantik atau lebih bagus, seharusnya berkulit putih. Selanjutnya, mayoritas orang selebritis, dari pemain sinetron, model, penyanyi dan artis – artis lainnya di televisi atau di majalah banyak yang dikatakan cantik mempunyai kulit putih.

Akibat pesan tersebut adalah persepsi kecantikan dalam masyarakat Indonesia yang justru tidak normal. Orang Indonesia mayoritasnya tidak berkulit putih tetapi sawo matang, dan mayoritasnya tidak berdarah campuran bule.

Dengan demikian, akibat sosial adalah ketidakhargaan kecantikan Indonesia yang asli yang daripada dibanggakan sebagai sesuatu yang indah malah membawa perasaan minder.

Globalisasi yang direpresentasi dalam bentuk bintang Indo dan bintang berkulit putih dalam iklan produk pemutih dan sabun merupakan sebuah bentuk kolonialisasi baru.

Pendapat Angelina Sondakh tentang cantik.

Angelina Sondakh mempunyai pendapat yang sangat yaitu Saya tidak mempermasalahkan atau bahkan melarang seorang Puteri Indonesia berdarah campuran (Indo), tapi justru yang ingin saya pertanyakan bagaimana komitmen kita sebagai anak bangsa memandang permasalahan yang menimpa sebagian besar remaja Puteri kita, yang akhirnya minder dan bahkan melakukan upaya-upaya yang tidak sehat untuk menjadi seperti ‘Puteri Indonesia’ (maaf : berkulit putih, hidung mancung, dll) seperti standar yang ditetapkan ‘majalah-majalah luar’. Karena tentunya ini dilandasi keinginan saya (seperti dalam buku saya : Kecantikan bukan modal utama saya) bahwa saya tidak ingin melihat remaja perempuan Indonesia diperbudak oleh arti atau pandangan mengenai kecantikan lahiriah yang salah, Karena sejujurnya yang perlu kita dorong sekarang adalah bagaimana remaja perempuan kita tidak lagi hanya terfokus pada kecantikan lahiriah tapi juga kecantikan intelektual yang akan membuat
wanita Indonesia lebih bermartabat, terhormat dan dihargai. Ini juga harus sejalan bahwa kaum pria juga bisa melihat kecantikan wanita bukan dari kulitnya yang putih dan segala kecantikan fisik lainnya, tetapi kaum pria juga harus bisa melihat kecantikan wanita secara intelektualnya (inner beauty).

Wallahualam bishshowab,
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Allah berfirman : "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji , dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik . Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka . Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia." (An-Nur (24) : 26).

Allah berfirman : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah (2) : 216).

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian, adalah yang paling bertakwa di sisi Allah.” (Al Hujurat (49) : 13).

Allah berfirman :"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk." (QS At Tiin (95) : 4).
Nabi bersabda : “Perempuan itu dinikahi lantaran 4 hal : karena hartanya, karena kemuliaan nasabnya, karena kecantikannya dan karena din-nya. Maka beruntunglah kamu yang memilih perempuan yang memiliki din (agama) yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi bersabda : “Janganlah kau nikahi perempuan karena kecantikannya. Boleh jadi, kecantikannya itu akan membinasakan. Dan jangan kamu nikahi mereka kerena hartanya. Boleh jadi, hartanya itu akan menjadikannya sombong. Alih-alih nikahilah mereka karena din-nya. Dan budak yang hitam kulitnya tetapi memiliki din (yang baik) itu lebih utama.” (HR. Ibnu Majah).

Allah berfirman : “Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu.” (Al Baqarah (2) : 45).
 

Keluarga zahwan | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL