09 Oktober 2008

Surat Patah Hati

Surat Patah Hati…

Kalau seorang mahasiswa baru jurusan filsafat menulis surat untuk seorang gadis yang telah membuatnya patah hati? Begini :

Gue memang harus bilang terima kasih sama kamu yang sudah ngebuat gue patah hati bahkan berkali-kali.

Patah hati, mungkin, buat banyak orang adalah hal yang menyakitkan. Tapi bagi gue itu adalah karunia tak ternilai, sebab berarti Tuhan, lagi-lagi, masih memberikan anugerah cinta-Nya ke gue.

Mengenal kamu adalah hal terindah bagi gue, karena meskipun kamu gak sadar akan hal itu, kamu telah banyak memberikan inspirasi terhadap hidup gue. Tak hanya di urusan cinta, tetapi bahkan gue menemukan kembali keseimbangan dalam hidup. Gue sadar, selama ini gue benar-benar seorang utilitarian penganut setia John Stuart Mill. Tindakan gue hanya berdasarkan pertimbangan efektivitas dan efisiensi. Tetapi saat berhadapan dengan kamu, rasionalitas utilitarian tak lagi bisa gue pertahankan. Pendek kata, gue meluruh dalam emosi cinta yang gue bangun sendiri.

Tadinya gue berpikir ini adalah ilusi yang gue ciptakan sebagai akibat ketertarikan atas kamu secara seksual. Pikiran itu mendorong gue untuk kembali membaca psikoanalisis-nya Sigmund Freud (Three Essays on the Theory of Sexuality). Maka sempat gue menyimpulkan bahwa satu-satunya solusi atas hal ini adalah dengan mengungkapkan “libido” gue secara vulgar, dan seharusnya ketika itu terungkapkan, maka pikiran gue bisa bebas dari ilusi tentang kamu. Tapi nyatanya, kesimpulan itu salah. Ada sesuatu yang lebih dari hanya “kepenasaran” gue terhadap kamu.

Agak sedikit melenceng, gue jadi ingat istilah Hannah Arendt (seorang perempuan filsuf yang pernah pacaran dengan filsuf besar Jerman, Martin Heidegger) bahwa “politik adalah seni untuk mengabadikan diri manusia”. Maka gue kembali berteori bahwa “perjuangan” yang gue lakukan untuk mendapatkan kamu adalah bagian dari keinginan setiap manusia untuk mengeksistensikan dirinya. Tiba-tiba gue merasa menjadi seorang eksistensialis. Bukankah Adam adalah seorang eksistensialis ketika ingin mendapatkan Hawa?

Sampai di sini, gue hampir saja menemukan jawaban, bahwa kalau gue memperbanyak pola eksistensialis semacam ini, hasrat gue terhadap kamu pasti akan semakin menipis. Tetapi lagi-lagi model ini menemukan jalan buntu. Gue malah semakin cinta sama kamu. Gue jadi agak frustasi dan hampir saja terdorong untuk membuang semua teori. Namun bukankah Stephen Hawking mengatakan bahwa semua hal pasti ada rumusnya? (Theory of Everything)

Kembali gue buka semua catatan dari filsuf-filsuf besar dunia yang pernah gue baca buku-bukunya. Dari konsep Cartesian-nya Descartes hingga keseimbangan kosmiknya Fritjof Kapra. Dari konsep universalitasnya Kant hingga konsep dialogisnya Habermas. Dari konsep komunitariannya Robert N Bellah hingga pragmatismenya John Dewey.

Dan akhirnya… gue memang tidak pernah bisa mendapatkan jawabannya… namun tetaplah ada filosofi di balik itu semua. Gue menemukan sintesa dari semuanya, bahwa cinta adalah hal yang harus terus dicari oleh manusia. Cinta bukan sebuah konsep fana yang hidup hanya pada momen-momen romantik seperti akhir cerita buku-buku HC Andersen, tetapi lebih dari itu, cinta adalah sebuah cita-cita yang dibangun dari pengalaman emosional dan transendental setiap manusia

Patah hati adalah ekses dari proses pencarian cinta. Dan sekali lagi terima kasih ya… kamu telah menyingkap sekian banyak misteri tentang cinta.

Sumber tulisan : situs tetangga
 

Keluarga zahwan | Desenvolvido por EMPORIUM DIGITAL